Selasa, 11 Juni 2013

Cerpen Indah pada waktunya



Indah pada waktunya J
Kemudian , kami berjalan menyusuri hamparan jalan yang penuh dengan siraman air hujan yang kemarin datang . Dan tak sepatah katapun yang terlontarkan di tengah perjalanan menuju rumahku.
“Huugh, akhirnya sampai juga “ ucapku seraya mengembalikan payung itu ke tangan gadis kecil yang tengah berada disampingku. Dan berkata , “ Tunggu sebentar ya dik “ . Si gadis kecil itupun hanya mengangguk membalas perkataanku.
Aku langsung masuk ke rumah dan memanggil ibuku untuk membayarkan ojek payung tersebut , karena uang sakuku hilang , ya mungkin kececer.
Keesokan harinya , ketika pulang dari sekolah , lagi , lagi , dan lagi hujan menyerbu tiba-tiba tanpa satupun orang yang mengiranya. Di halte itu , iyah tepat di halte di seberang jalan rumahku , aku bertemu lagi dengan gadis kecil kemarin yang tengah menawarkan payungnya.Spontan , aku langsung memanggil gadis tersebut , “ Dik , ojek payung dik” . Ucapku sambil melambaikan tangan kepadanya.
“Iya kak “ jawab adik itu dengan senyuman manis yang selalu dia tunjukkan.
Kulihat wajahnya yang cantik dan rambut panjang terurai panjang , tanpa menghiraukan dinginnya cuaca bahkan dari raut wajahnya , tak terlihat sedikitpun rasa lelah pada dirinya . Aku salut kepadanya.
Keesokan harinya, aku bangun lebih awal karena harus segera tiba di sekolah . Hari ini aku bertugas menyapu ruangan.
“Ciie… tumben rajin “ ucap sthefanny padaku .
“ Haha… Biasa aja kali Stef , kan ini udah kewajibanku tiap hari Rabu “ Kataku lagi.
Setelah menyapu , aku duduk . Ntah kenapa , pikiranku saat itu hanya tertuju pada gadis kecil kemarin . Pikiranku buyar ketika Grace tiba-tiba datang dari luar .
“Pagi semua” ucapnya dengan gembira. Aku tidak menjawab.
“Hey? Kok melamun? Tidak biasanya kau seperti ini “ Grace bertanya,
Kemudian aku menceritakan sosok gadis kecil yang kujumpai kemarin. Alih-alih berharap Grace , tau sedikit tentang gadis yang kumaksud. Aku tidak tau mengapa aku ingin sekali mengetahui seluk beluk gadis itu.
“Kamu kenal gadis yang sering ngojek payung di halte? “
“ Kenal . Dia tetanggaku “ ucap Grace.
Grace mulai menceritakan tentang gadis kecil yang mirip artis cilik itu. Aku tercengang ketika Grace mengatakan bahwa gadis itu berasal dari keluarga yang sangat miskin . Orangtuanya hanyalah pemulung . Untuk itu , dia harus ikut membantu keuangan keluarga . Apalagi setelah kakak sulungnya meninggal 3 bulan yang lalu .
Bel berbunyi pertanda pulang sekolah. Semua siswa bersorak kegirangan . Aku menunggu Mas Dodi di depan gerbang SMA Tunas Bangsa. Sekolah yang menjadi tempatku menimba ilmu ini cukup terkenal karena terbukti banyak siswa yang masuk ke PTN dan langsung bekerja. Tiba-tiba terdengar suara mobil Mercedez Benz melaju dengan lambat ke arahku .
“Ayo Sand naik” teriak mas dodi dari dalam sambil membuka kaca mobilnya .
“Iya Mas “ Jawabku
Jalanan yang macet , berasap dan padat membuatku tidak betah tinggal dikota. Bangunan-bangunan pencakar langit turut meramaikan betapa panasnya kota Jakarta. Lampu merah menyala dan tiba-tiba ada seorang gadis dengan keringat bercucuran menawarkan Koran kepadaku .
“ Kak , Koran !” katanya
Eh tunggu , bukannya dia gadis kecil pengojek payung kemarin?? Aku berkata sendiri.
“Iya kak” katanya mengejutkanku .
Aku merogoh uang dari sakuku , kemudian memberikannya pada gadis kecil itu. Belum sempat menanyakan nama gadis itu , lampu merah berubah menjadi lampu hijau .
“Sial” pikirku dalm hati
Di sepanjang perjalanan menuju rumah , aku hanya duduk termenung sambil menatap-natap gedung-gedung dari kaca mobil .
“Sudah sampai Sand , gak mau turun?” Tanya Mas Dedi
“ Emm , iyah mas “
Aku turun dari mobil dan menceritakan gadis kecil itu kepada Ibuku . Aku ingin keluarga kami memperhatikan gadis kecil itu dan membantunya. Setelah mencari tau tentang keberadaan  keluarga gadis itu , kami sekeluarga memutuskan untuk mengunjungi keluarganya . Ternyata nama gadis itu Raisa Tasya . Nama yang sangat indah bagai laksana bulan purnama di malam hari dan nama yang sangat cocok dengan parasnya yang cantik , manis , lugu , dan mirip artis itu . Adik-adiknya juga tidak kalah cantik dan gantengnya . Raisa mempunyai  2 orang gadis cilik yang masing-masing berusia 9 dan 2 tahun dan 2 orang dan  2 orang pemuda cilik masing-masing berusia 5 dan 3 tahun.
Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan , sebuah gubuk tua dihuni oleh 6 orang .
1 minggu kemudian , aku dan Raisa semakin dekat layaknya kakak-beradik. Aku sering mengajaknya kerumahku dan bermalam disana.
“Waah , rumah kakak layaknya istana kerajaan .” sambil memandangi sekelilingnya.
Lampu-lampu dengan perhiasan seperti mutiara berada di langit-langit rumah . Guci-guci raksasa berjejer di samping dinding . Apalagi ditambah dengan warna cat biru muda yang menutupi lapisan dinding semakin menambah kemewahan rumah ini “ ucapnya lagi .Wajar saja dia baru pertama kali masuk ke rumah semewah ini.
Kamipun tidur bersama  di kamarku sambil bercerita tentang hidup kami masing-masing. Ternyata aku mirip sama kakaknya , mulai dari cara berbicara , wajah , tinggi sampai-sampai mataku juga mirip sama kakaknya , yang terlebih dahulu dijemput oleh yang maha kuasa , makanya dia sering melihatku dan menawarkan payungnya terhadapku. Aku sangat senang dapat mengenal Raisa , seorang gadis kecil yang sangat tegar menghadapi lika-liku kehidupan .
Aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Hari-hari berjalan dengan indah . Banyak mengisahkan kenangan indah yang tak mungkin terlupakan bersama Raisa.
Baru 10 menit sampai di rumah tiba-tiba telepon rumah berbunyi . “Hallo?” Aku mengangkat telepon.
“Apa ini Alexandra ? Ini ibunya raisa nak “
“Iya ibu , ada apa? “ Aku bertanya penasaran .
“Nak , tadi waktu di perjalanan pulang dari menjual Koran . Raisa tertabrak mobil dan sekarang dia ada di rumah sakit . “ Kata Ibu raisa menceritakan sembari menangis.
Tanpa kusadari , air mata telah mengalir deras di pipiku dan gagang telepon terjatuh. Aku langsung memanggil seluruh penghuni rumah dan pergi ke rumah sakit.
Raut wajah cemas dan takut menghantui kami yang sedang menunggu dokter keluar dari ruang pasien.
“Maaf , anak ibu mengalami buta permanen akibat kecelakaan yang baru dialami. “ Jelas dokter.
Ibu , ayah , serta adik-adik Raisa menangis histeris dan begitu pula denganku . Aku tidak bisa menahan air mataku. Ini sungguh cobaan yang sangat berat buat keluarga Raisa. Dan mungkin jika aku di posisi Raisa , aku tak bisa setegar itu.
Dua minggu kemudian , Raisa sudah bisa pulang ke rumah. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kesedihan atau keputus-asaan sedikit pun. Dia tetap cantik walau tanpa kedua bola matanya yang indah itu.
Dan pada saat itu juga aku ingin menjadi mata untuk Raisa , aku ingin mengantarnya kemanapun ia pergi.
Aku ingin menjadi kakak terbaik untuknya, menggantikan kakaknya yang telah meninggal.
Ini udah cukup, Raisa dan keluarganya tidak boleh di gubuk tuanya itu lagi. Aku akan membujuk kedua orangtuaku agar mau menampung keluarga Raisa di sini.
“Ma..Pa.. Raisa dan keluarganya bisa tinggal di sini kan? Kasihan orang itu Ma.
“Iyah..Besok kita jemput mereka” kata ayahku.
“Yeagh ,makasih ma , makasih pa . Aku senang banget “
Jadi gak sabar menunggu kehadiran mereka besok . Rumah ini bakalan ramai dan gak sepi lagi.
Aku beruntung bisa mengenal keluarga Raisa walaupun banyak tantangan hidup yang mereka hadapi , mereka tidak pernah mengeluh . Mereka selalu bersabar dan berdoa agar kelak hidup mereka bahagia.
Dan mungkin ini adalah cara Tuhan untuk menjadikan doa mereka menjadi kenyataan, melalui keluarga kami. Mereka tidak perlu lagi menjadi pemulung di luaran sana . Sekarang kami adalah keluarga. Keluarga nan indah dan harmonis. Walaupun Raisa tidak dapat melihat indahnya dunia lagi. Terima kasih Tuhan .. Kini aku tau engkau menghadirkan pelangi sehabis hujan. Dan tidak akan pernah memberikan cobaan hidup di luar batas kemampuan kami.
END  JJJ
HAPPY ENDING JJJ
Nama : Chindy T. Siagian
Kelas : XA
SMA Negeri 1 Balige

Tidak ada komentar:

Posting Komentar