Kamis, 14 April 2016

banjir Rob



PENANGANAN BANJIR ROB YANG TERJADI DI KELURAHAN TANJUNG MAS, KABUPATEN PEKALONGAN DAN KABUPATEN DEMAK

Chindy Triningsih Siagian
21040115120053


Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro

Abstract

Banjir rob is when an area inundated during the highest tide and low tide again at the lowest tide. The factor of banjir rob is the height of land, land subsidence, the distance from coastal, and the distance from river. Semarang city is one of the coastal cities in Indonesia. Under existing condition, Semarang very often flooded rob. Almost every day at dusk, puddles always the case in some areas as a result of tidal flood, even till now there is no way in which it is appropriate for this problem and the burden of development that crisscross the coastal areas are also getting bigger so that subsidence on land also influential to flooding rob (Kodoatie, 2003).
Areas that are at risk of tidal flooding coastal areas of Semarang which includes six sub-districts Tugu, West Semarang,
kelurahan Tanjung Mas, Kabupaten Pekalongan, and kabupaten Demak with predictions and assumptions of sea level rise by 2050 and land subsidence of 2-3 cm per year (Muhrozi, 2004).

Keywords : development, coast

Abstrak
Banjir rob adalah ketika suatu daerah tergenang selama pasang tertinggi dan surut lagi di pasang terendah. Faktor banjir rob adalah ketinggian tanah, penurunan tanah, jarak dari pantai, dan jarak dari sungai. Kota Semarang merupakan salah satu kota pesisir di Indonesia. Dalam kondisi yang ada, Semarang sangat sering banjir rob. Hampir setiap hari pada sore hari, genangan air selalu terjadi di beberapa daerah sebagai akibat dari banjir pasang, bahkan sampai saat ini belum ada cara yang tepat untuk masalah ini dan beban pembangunan yang merambah wilayah pesisir juga semakin besar sehingga bahwa penurunan di darat juga berpengaruh untuk banjir rob (Kodoatie, 2003).
Daerah yang beresiko wilayah pesisir banjir pasang dari Semarang yang meliputi enam kecamatan Tugu, Semarang Barat, kelurahan Tanjung Mas, Kabupaten Pekalongan, dan kabupaten Demak dengan prediksi dan asumsi kenaikan permukaan laut tahun 2050 dan penurunan tanah dari 2-3 cm per tahun (Muhrozi, 2004).
 
Kata kunci:    Pembangunan, Pesisir



























1.Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang beriklim tropis dan dikelilingi oleh banyak pulau. Di indonesia ada 2 musim yaitu msim kemarau dan musim hujan. Kota semarang adalah kota yang apabila hujan datang, maka bisa terjadi banjir, salah satnya adalah banjir rob. Perubahan iklim telah mengubah proses alam khususnya pola cuaca. Salah satu isu yang berkembang adalah perubahan iklim dapat menyebabkan bencana pada kota-kota pesisir seperti banjir, kenaikan permukaan air laut, penurunan permukaan tanah, maupun masuknya air laut ke wilayah daratan. Bencana banjir rob yang terjadi di Semarang berdampak pada kerusakan kondisi fisik dan lingkungn. Kerusakan tersebut dikhawatirkan juga akan berpengaruh pada aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang ada di dalamnya. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh genangan banjir rob terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat di beberapa kabupaten di Semarang.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan banjir rob ?
2.      Apa yang mengakibatkan terjadinya banjir rob ?
3.      Kerusakan apa saja yang diakibatkan oleh banjir rob ?
4.      Bagaimana kondisi lingkungan beberapa daerah di semarang yang terkena banjir rob?
5.      Bagaimana cara menanggulangi banjir rob ?

1.3. Tujuan dan manfaat penelitian
            Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara variabel kondisi genangan banjir rob yang meliputi ketinggian dan lama genangan dengan variabel kondisi sosial ekonomi masyarakat yang meliputi perpindahan penduduk, pendidikan, kesehatan, mata pencaharian,
dan pendapatan. Selain itu untuk menggambarkan implementasi kebijakan penanganan banjir rob di daerah provinsi semarang, untuk mengetahui upaya penanggulangan hambatan- hambatan dalam pelaksanaan kebijakan penanganan banjir rob di wilayah sekitar semarang khusus nya Kabupaten Demak, Kelurahan Tanjung Mas dan Kabupaten Pekalongan. Manfaat penelitian ini yaitu memberikan informasi kepada masyrakat tentang apa yang terjadi selama 30 tahun sebelumnya mengenai banjir rob sehingga masyarakat lebih bisa membedakan dan mengantisipasi terjadinya banjir rob.




     2. Subbab

2.2. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
            Masterplan Sistem Drainase Kota Semarang khususnya Kabupaten Demak, Kelurahan Tanjung Mas dan Kabupaten Pekalongan disusun menggunakan konsep drainase kota berwawasan lingkungan. Konsep dasar perencanaan sistem drainase yang digunakan adalah mengalirkan air hujan dan air limbah rumah tangga atau limbah domestik ke badan air berupa saluran alamiah atau sungai agar tiidak terjadi banjir. Konsep normatif ini dipadukan dengan mengaplikasikan konsep ekodrainase, yaitu seoptimal mungkin mengupayakan proses terjadinya peresapan air hujan secara langsung kedalam tanah melalui sumur resapan air hujan dalam rangka konservasi air tanah sebagai cadangan air tanah di musim kemarau dan untuk mencegah intrusi air laut (Anonim, 2008). Drainase adalah suatu proses alami yang diadaptasikan manusia untuk tujuan mereka sendiri, mengarahkan air dalam ruang dan waktu dengan memanipulasi ketinggian muka air (Abdeldayem, 2005). Kebutuhan akan sistem drainase yang memadai telah diperlukan sejak beberapa abad yang lalu, seperti pada masa 300 SM jalan-jalan pada masa tersebut dibangun dengan elevasi lebih tinggi untuk menghindari adanya limpasan di jalan (Long, 2007). Untuk perkiraan resiko banjir dan merancang skema drainase, waduk, dan bangunan hidrolik lainnya, pengetahuan tentang hubungan antara besarnya frekuensi dan distribusi intensitas hujan yang turun sangatlah penting. Pengetahuan ini juga penting dalam studi erosi, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan di bidang lain (John C. Rodda et al, 2009). Kolam penampung berfungsi untuk menampung debit air sementara, baik debit limbah penduduk maupun debit air hujan. Desain kolam penampung disesuaikan dengan debit air yang dihasilkan dengan kebutuhan pompa yang akan digunakan (Hidayat, T., 2008). Sebuah metode pengawasan/kontrol sistem polder dapat diatur dengan memantau tampungan yang tersedia dalam sistem,selama dan setelah hujan. Dengan cara ini daerah genangan/masalah drainase dapat ditanggulangi jika pengawasan/kontrol diatur dengan benar sehingga mendapatkan kinerja yang baik (Peter Jules, 2003).

3. Metode Penelitian
3.1 Metode penyediaan data
            Pendekatan studi yang digunakan untuk mencapai tinjaua dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Pada pendekatan kualitatif ini strategi penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Pengumpulan data menggunakan metode survei ke lembaga-lembaga dengan metode observasi lapangan meliputi data wilayah genangan banjir,data wilayah rawan banjir, data pasang surut,data kenaikan muka air laut,data gelombang,data luasan mangrove dan tingkat kerusakannya. Serta data citra satelit pada tahun-tahun yang tidak jauh berbeda. Teknik pengupulan data dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan cara observasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengunjungi tempatnya langsung. Wawancara yaitu cara untuk memperoleh informasi dengan bertanya langsung terhadap objek penelitian. An cara pengumpulan data yang terakhir adalah dokumen yaitu merupakan catatan- catatan peristiwa dalam bentuk gambar, video, tulisan, atau rekaman dari seseorang.
3.2. Metode Analisis Data
            Sumber data yang tersedia dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diambil secara langsung dari subjek/ sumber penelitian melalui wawancara maupun analisis lapangan. Data sekunder merupakan data tambahan yang berkenan dengan fokus penelitian. Data sekunder ini tidak langsung didapat dari subjek namun dai pihak lain. Data sekunder ini dapat diperoleh dari orang lain atau bahan bacaan lain, seperti koran, majalah dan yang lainnya.

3.3. Metode Penyajian Analisis
            Metode penyajian data analisis dalam artikel ini aalah metode analisis kuantitatif dan metode analisis kualitatif. Teknik dalam penelitian kuantitatif adalah menggunakan statistik. Penentuan sampel penelitian menggunakan metode non-probality sampling dengan variasi maksimal karena informasi akan digali dari pihak internal dan eksternal program pemberdayaan masyarakat di daerah kelurahan Tanjung Mas, Kelurahan Budiarjo dan kabupaten Demak. Dalam penelitian kualitatif data yang diperoleh dari berbagai sumber  dengan menggunakan teknik  pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus  tersebut mengakibatakan variasi data sangat tinggi  sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitattif sehingga tekniik analisa yang digunakan  belum ada pola yang  jelas. Oleh Karen itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis.

 4. Pembahasan
4.1. Pengertian banjir rob
Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. Salah satu jenis banjir yaitu banjir lahar dingin, banjir bandang, banjir cileunang dan banjir rob. Banjir yang sering terjadi didaerah Semarang adalah banjir rob karena daerah Semarang dekat laut. Banjir rob yaitu luapan air laut yang naik kedaratan biasanya diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi.
4.2. Penyebab terjadinya banjir rob
Beberapa penyebab dari banjir rob di pesisir memang belum dapat dipastikan, namun pada beberapa kondisi terjadinya rob secara umum dapat disebabkan oleh
- Pasang-surut air laut dan posisi bulan yang menyebabkan gaya tarik.
- Land Subsidence yang terjadi sebagai akibat dari beban pemanfaatan lahan yang ada
dipesisir dan pengambilan air tanah yang berlebihan.
- Perubahan pemanfaatan ruang di pesisir sehingga tidak ada daerah yang menjadi barier terjadinya banjir rob.
Tiga hal tersebut secara umum selalu ada didaerah yang rawan terhadap banjir rob sedangakln untuk perluasan daerah genangannya tiga faktor tersebut berbanding lurus yaitu semain tinggi tiga faktor tersebut maka luas genangan rob juga akan semakin besar (Kodoatie,2003).

4.3. Dampak yang ditimbulkan oleh banjir
Dampak primer meliputi
·  Kerusakan fisik - Mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanahjalan raya, dankanal.
Sekunder
·  Persediaan air – Kontaminasi airAir minum bersih mulai langka.
·  Penyakit - Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air.
·  Pertanian dan persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen. Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
·  Pepohonan - Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas.
·  Transportasi - Jalur transportasi rusak, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.
Dampak tersier/jangka panjang
·  Ekonomi - Kesulitan ekonomi karena kerusakan pemukiman yang terjadi akibat banjir; dalam sector pariwisata, menurunnya minat wiasatawan;  biaya pembangunan kembali; kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan harga, dll.
Dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, ternyata banjir (banjir air skala kecil) juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti mengisi kembali air tanah, menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada tanah. Air banjir menyediakan air yang cukup di kawasan kering dan semi-kering yang curah hujannya tidak menentu sepanjang tahun. Air banjir tawar memainkan peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem di koridor sungai dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan keragaman makhluk hidup di dataran. Banjir menambahkan banyak nutrisi untuk danau dan sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-tahun mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk pengembangbiakan ikan (sedikit predasi dan banyak nutrisi).  Terdapat 5 kelas kerawanan rob yang menggenangi kawasan pemukiman di Demak yaitu kelas sangat rawan 14,464 ha, kelas rawan 103,906 ha, kelas kurang aman 335,472 ha, kelas aman 877,394 hs, kelas sangat aman 1171,527 ha. Daerah yang termasuk dalam kelas sangat rawan dan rawan berada di Desa Sriwulan, Bedono, Timbulsloko, Bedono, Surodadi, Tambakbulusan, Morodemak, Purworejo, Betahwalang, Wedung, Berahankulon, dan Kedungmutih. Daerah yang termasuk dalam kelas kurang aman, aman, dan sangat aman menyebar di seluruh Desa di Kabupaten Demak.

4.3. Kondisi daerah di Semarang yang terkena banjir rob
1. Di daerah Kelurahan Tanjung Mas merupakan daerah yang terletak di pesisir pantai dengan karakteristik hidrologi aquiver produktivitasnya sedang hingga tinggi yang potensial menimbulkan banjir rob, kondisi banjir rob di kelurahan ini memiliki ketinggian genangan mulai dari 30 cm- 1 m dengan genangan terparah pada RW XII hingga RW XIV karena letaknya yang paling dekat dengan laut, namun keseluruhan kelurahan ini terendam banjirrob disemua wilayahnya ketika air pasang. Kondisi sosial masyrakat di kelurahan Tanjung Mas berdasarkan pendidikan diketahui mayoritas masyarakatnya mengenyam pendidikan hinga tamat SMA, namun tidak sedikit pula yang hanya tama SD.
2. Di Kabupaten Pekalongan, berdasarkan hasil penelitian di daerah Pekalongan terlihat bahwa sumber daya manusia pelaksana penanganan rob di wilayah pesisir Kota Pekalongan memiliki tingkat pendidikan yang cukup memadai. Sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan DIII sebanyak 1 (satu) orang, sarjana sebanyak 12 (dua belas) orang dan pasca sarjana sebanyak 2 (dua) orang. Hal ini cukup memadai penanganan rob di daerah Pekalongan.
3. Di kabupaten Demak Berdasarkan faktor ketinggian tanah,
penurunan tanah, jarak dari garis pantai, jarak dari sungai selanjutnya dilakukan
pemodelan spasial dengan ketinggian air pasang 1 meter, maka dihasilkan peta daerah rawan rob di Kabupaten Demak yang dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas
sangat rawan, kelas rawan, kelas kurang aman, kelas aman, dan kelas sangat
aman. Selanjutnya peta daerah rawan rob tersebut di overley terhadap Peta
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dari hasil overley dapat dihitung luas
rencana kawasan pemukiman yang terkena dampak banjir rob. Pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Demak terlihat bahwa pemukiman berada tidak jauh dari garis pantai. Sebagian besar aktifitas manusia Kabupaten Demak berada di Pesisir, mengingat daya tarik daerah pesisir, komunitas pesisir terus berkembang seiring dengan perkembangan kawasan.




4.4 Cara Penanggulangan banjir Rob
Penanggulangan banjir
Mencegah dan menanggulangi banjir tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja atau orang perorang saja. Dibutuhkan komitmen dan kerjasama berbagai pihak untuk menghindarkan Jakarta dan kota lain di Indonesia dari banjir besar.
Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan itu antara lain:
·      Membuang lubang-lubang serapan air
·      Memperbanyak ruang terbuka hijau
·       Mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa.
                  Meninggikan bangunan rumah memang dapat menyelamatkan harta benda kita ketika banjir terjadi, namun kita tidak mencegah terjadinya banjir lagi. Manusia yang mengakibatkan banjir, manusia pula yang harus bersama-sama menyelamatkan kota. Menyelamatkan Jakarta dari banjir besar bukan hanya karena berarti menyelamatkan harta benda pribadi, namun juga menyelamatkan wajah bangsa ini di mata dunia.
Partisipasi seluruh elemen masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir. Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum banjir penanganan saat banjir , dan pemulihan setelah banjir. Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan penanggulangan banjir yang berkesinambungan, Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang dimulai dari banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan sebelum bencana banjir terjadi kembali. Pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai sampai wilayah dataran banjir dan kegiatan non-fisik seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir. Banjir rob sering terjadi pada saat pasang tertinggi yang menggenangi kawasan pemukiman di pesisir Kabupaten Demak. Peta tingkat kerawanan banjir rob terhadap kawasan pemukiman di Kabupaten Demak ini selanjutnya dapat menjadi pertimbangan untuk pembuatan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah yang berbasis mitigasi.



5.Penutup
5.1 Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
1. Pasang-surut air laut dan posisi bulan yang menyebabkan gaya tarik.
2. Banjir merupakan fenomena alam yang terjadi di daerah yang dialiri sungai
3.  Banjir merupakan akibat dari suatu siklus hidrologi
4.  Banjir di Semarang adalah banjir rob
5. Penyebab terjadinya bencana banjir adalah Penebangan hutan secara liar,
     pendangkalan sungai, naiknya air laut ke daratan, pembuatan sungai dan tanggul   
    yang tidak memenuhi syarat.
5. Banjir banyak menyebabkn kerugian, seperti : Kematian, kerusakan sarana dan prasarana, kerugian material, banyaknya penyakit menular, dan kegiatan masyarakat terhambat.

6. Daftar Pustaka
Hastari, Rahma. 2014. Banjir Rob. Dalam web jakartapedia.bpadjakarta.net.
         Diakses pada tanggal 12 oktober 2015.

Satterthwaite D. 2008. Climate changeand urbanization: Effects and implications for urban governance. [Editor tidak diketahui]. The United Nations expert group meeting on population distribution, urbanization, internal migration, and development. United Nations Secretariat, 21-23 Januari. New York.

Karsidi A. 2011. Bakosurtanal: Dampak Kenaikan Permukaan Laut pada
 Lingkungan Pantai Indonesia. [Editor tidak diketahui]. Workshop    Dampak Kenaikan Permukaan Laut pada Lingkungan Pantai Indonesia. 27 April
       2011.

IPB International Convention Center Bogor. http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/ workshop  dampak kenaikan permukaan laut pada lingkungan pantai Indonesia 2/ diakses 18 Mei 2011
Badan Pusat Statistik Kabupaten Demak. 2011. Demak Dalam Angka. 340
         Halaman

Dritasto, Achadiat. 2005. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Pembangunan 
          Wilayah dan Kota. Jurnal ASPI. Vol 5 (1). Oktober, hal.4- 16.

Kodoatie, R. J., and Sugoyanto.2002. BANJIR: Beberapa Penyebab dan Metode
            Pengendaliannya dalam perspektif Lingkungan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI).

Lawson, Louis and Kearns Ade. 2010. Community Empowerment in the Context of Glasgow Housing Stock Transfer.” Urban Studies, Vol.47 (7), January.

Zubaedi. 2007. WACANA PEMBANGUNAN ALTERNATIF: Ragam perspektif Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.

Suharto, Edi. 2010. Membangun masyrakat  Memberdayakan Rakyat. Bandung: PT. Refika Aditama.

Haeedar Akib, 2010. Implementasi Kebijakan: Apa, Mengapa, Bagaimana, Jurnal Administrasi Publik, Volume 1No. 1 Tahun 2010.

Lilik Kurniawan, 2003, Kajian Banjir Rob di Kota Semarang, Jurnal Alami Vol. 8 Nomor 2 Tahun2003, Jakarta.

           
                                                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar